Pages

Kamis, 08 November 2012

Malam Itu Aku Mengetahui Sesuatu


Bulan apa ini? tanyaku dalam hati. Ku lirik kalender yang terpajang di dinding kamar ku. Bulan Mei. Sudah hampir lima bulan berlalu sejak kejadian malam itu di Kedai Coffe. Tapi semua hal yang terjadi dimalam itu masih terekam dengan detail di ingatanku.
***
Diawal perjumpaanku dengan mu, kamu pernah bertanya apa bahagiaku. Aku ingin mengatakan, “Seperti ini. Seperti sekarang ini. Meluangkan waktu bersama kamu. Bisa melihat mata kamu yang menyipit ketika kamu tertawa, atau merapikan rambut panjangmu yang terkena angin ketika pintu cafĂ© terbuka.” 
Tetapi akhirnya aku malah mengatakan, “Banyak. Makan yang enak, pergi ke pantai, menonton film, atau mendengarkan musik yang enak di telinga.”
 “Ah, kita sama. Kenapa lain kali kita tidak melakukannya berdua?” mata kamu membesar. Senyummu mengembang lebar.

Aku senang mendengarnya, sekaligus menyesalinya. Seharusnya jangan berkata seperti itu, karena aku akan terus menginginkannya.
“Bagaimana kalau jazz? Kamu suka? Ayo kita nonton berdua!” katamu lagi. 
Kamu harus melihat dirimu sendiri ketika mengatakannya, tapi bukan dari kaca matamu sendiri, melainkan dari kaca mata pikiran dan hatiku. Jadi, kamu tidak lagi sembarangan mengatakan hal seperti itu sambil sumringah dan alismu kamu naik turunkan. Pasang wajah semenyenangkan mungkin.
“Mana ada konser Jazz di sini. Java Jazz adanya, itu pun di Jakarta, dan mungkin harus menunggu lama,” kataku.
“Oiya,” katamu sambil menepuk jidat, memasang muka konyol seperti biasanya. “Kalau begitu nonton musik apa ya?” lanjutmu.
“Angklung,di jalanan. Setiap malam biasanya ada di Alun-alun sana” Sahutku.
 “Yaaaah, masak angklung? Di jalanan lagi. Gak ada tempat buat duduknya dong. Gak ada buat ngopi dan ngemil kentang goreng.” Kamu terbahak.
 “Mau gak?” aku tersenyum saja.
“Hih! kamu ini gak bisa bercanda sedikit apa. Ngomong kok singkat-singkat.” Katamu mendelik.
Aku tertawa. Kamu pasang muka cemberut. Bahkan kamu sedang cemberut pun aku menyukainya. Nah, gila kan?
“Kalau kita melihatnya, kamu akan senang?” tanyamu.
Lagi. Kamu melakukannya lagi. Tersenyum di depanku sambil menanyakannya, memasang muka ceria, dan menaik turunkan alismu. Sial! Kalau kamu terus melakukannya bisa-bisa aku nekat bilang cinta. Sesuatu yang aku masih takut mengatakannya.
“Kalau kamu? Kamu juga akan senang?” balasku tanpa menjawab pertanyaanmu.
Kamu tersenyum lebih lebar dan menatapku dengan muka ceria. “Tentu saja,” jawabmu cepat.
“Okeey, bagaimana kalau nanti malam kita kesana?” tanyaku kemudian.
Kamu tak menjawabnya dengan ucapan. Kamu hanya mengangguk beberapa kali seperti anak kecil yang ditawarkan lolipop kesukannya. Senyummu melebar.
            Ah, kamu sebenarnya bisa melakukan apa saja. Tapi kenapa kamu harus melakukan sesuatu yang membuatku tidak pernah menyangkanya? Membuatku jatuh cinta tanpa kamu menyadarinya. 
***
“Gleen..!”
            Kamu memanggilku setengah berteriak di antara kerumunan, dan ketika aku menengok, ada kamu sedang tersenyum riang sambil melambaikan kedua tanganmu ke kiri dan kanan. Nyaris semua badanmu ikut bergerak ketika melambaikan tanganmu itu. Terlihat sangat riang.
            Kamu sepertinya benar-benar tidak sadar kalau senyum dan kerianganmu itu selalu menjadi teroris yang mengambil alih otakku. Lagi dan berulang kali.
“Udah dari tadi?” tanyamu sambil  membereskan ujung rambut yang sedikit berantakan karna tadi berlari saat menghampiriku.
Ah bahkan berantakan semuanya pun bagiku kamu tetap menarik. Gumamku. Aku terpaku sepersekian detik.
“Hei..” ucapmu lagi menganggetkan ku.
“Eh, nggak kok, baru aja nyampe,” jawabku kemudian.
“Cari tempat kosong yuk!” usulmu sambil menyapu pandangan ke arah sekitar.
            Kita lalu sepakat mencari tempat untuk ngobrol berdua. Tidak enak berada di tengah keramaian dengan banyak orang berlalu lalang seperti ini. Ya. Mungkin di Kedai coffe sebrang alun-alun ini. Niat untuk melihat angklung itupun berubah. Malam ini sepertinya akan sangat menyenangkan. Aku bisa memandangi dan mendengar suaramu berlama-lama.
            Tapi lalu dia datang.
            “Putri..!”
            Seorang lelaki muncul di tengah kerumunan dan memanggil namamu. Kamu menengoknya dan setengah berteriak girang menyambutnya.
            Tepat di sana, aku sadar. Keriangan itu, mata berbinar itu, senyum itu, tidak hanya untukku. Kamu selalu melakukannya kepada siapa pun. Ah, bodohnya aku mengira kerianganmu spesial untukku.
            “Hei Ga, sedang apa disini?” tanyamu pada lelaki itu.
            “Tadinya mau ke Ultra disk minjam kaset, tapi sekilas aku seperti melihatmu, sekedar meyakinkan aku berhenti dan kesini, ternyata benar kamu.” Jelasnya sambil sesekali melirik ke arahku.
            Ya, malam itu aku memang duduk di bangku luar di Kedai Coffe itu yang letaknya tepat di pinggir jalan. Siapapun yang hendak ke Ultra disk pasti melewati Kedai Coffe ini. Letaknya memang bersebelahan.
            Dan pemandangan selanjutnya, oke, aku akui ini cukup menyiksa. Melihatmu berbincang dengan penuh tawa dengannya meski itu sebentar saja. Rasanya kamu tidak harus kemudian tiba-tiba melupakan bahwa aku di sini, tepat dua meter darimu hanya karena dia muncul begitu saja dan mengganggu kesenanganku.
            Aku memperhatikan benar setiap gerakanmu yang bercanda dengannya. Ketika kamu tertawa sambil menutupi mulutmu, atau ketika kamu mendorong lengannya pelan, dan atau ketika dia mengucapkan sesuatu, lalu kamu hampir saja terbahak. Kamu terlihat bahagia sekali bertemu dengan dia. Baiklah, rasanya, kamu tidak perlu menyiksa mataku sampai seperti itu. Lalu kamu menarik tangannya untuk mendekat kepadaku.
            O, kamu memang benar-benar buta. Sama sekali tidak melihat kalau aku sedang tersiksa dan malah menggandeng tangannya di depanku.
            “Kenalkan,” katamu. “Ini Ega.”
            Bisa kamu tidak tersenyum malu-malu sambil meliriknya ketika menyebut namanya itu? Setidaknya jangan di depanku. Dia melirikmu sambil tersenyum. Lalu kamu melihatnya dan ikut tersenyum. Masih malu-malu. Tidak lupa cubitan kecil mendarat di lengannya. Apa ini? Pasar malam cinta? Tepat di depanku?!
            “Hai, aku Glenn.” Aku menjabat tangannya.
            “Oh, ini?” katanya, masih tersenyum menatapmu. 
            Oh, ini? Aku bingung mengartikan semuanya. Apalagi ketika tangan kanannya sedikit menunjuk ke arahku ketika mengatakannya. Oh, ini?
            “Hei! Ayo, katanya kita mau makan?” Kamu mendekat kepadaku setelah mendorong lengannya pelan. “Sudah pergi sana. Sana sana sana!” katamu kepadanya sambil tertawa.
            Dia tertawa. Dan aku masih memandangi kalian berdua. Masih mencoba mencerna semuanya.
            “Oh, aku pengganggu, sekarang?” tanya Ega.
            Kamu kembali tertawa. Mendorongnya lagi seperti mengusirnya sambil bercanda. Kali ini dia yang tertawa. 
            “Oh, sekarang aku dilupakan dan diusir hanya karena orang yang selalu kamu ceritakan setiap malam sedang di sini?” kata Ega lagi sambil tertawa.
            Pipi kamu memerah. Aku melihatnya. Mungkin pipiku juga. Tapi semoga kamu tidak melihatnya. Mungkin aku sudah mencerna semuanya. 
            “Ssst,” katamu sedikit melotot sambil jari telunjukmu di bibirmu. Masih dengan pipi memerah. Masih dengan dorongan ringan ke arahnya mencoba menghentikan semua kalimatnya.
            "Kapan dibawa ke rumah?" tanya Ega menggodamu.
            Mulutmu terbuka seketika. Tersipu malu sambil lalu menghajarnya dengan pukulan-pukulan pelan di lengannya. Dia hanya tertawa.
            “Kamu jadi sepupu usil banget sih!” Ucapmu sambil mendorong tubuh Ega.
            “Maaf,” katamu. “Jangan dengarkan dia. Dia memang sering menggodaku. Kusuruh pergi pun, dia tadi minta sogokan donat dari sini, coba?!” kamu menggerutu lucu. 
            Aku tertawa saja, lalu melihatmu sambil tersenyum. Ah, aku suka sekali. Hari ini aku mengetahui sesuatu. Sesuatu yang tidak ada bandingannya dengan donat dan kopi yang sangat menggoda di depanku.
            Kamu melihatku lalu tersipu ketika menyadari aku sedang memperhatikanmu.
            “Apa sih?” katamu sambil menunduk malu dan menggoyang dua kakimu di kursi itu.
            Aku tersenyum saja.

0 komentar:

Posting Komentar