Bulan
apa ini? tanyaku dalam hati. Ku lirik kalender yang terpajang di dinding kamar
ku. Bulan Mei. Sudah hampir lima bulan berlalu sejak kejadian malam itu di
Kedai Coffe. Tapi semua hal yang terjadi dimalam itu masih terekam dengan
detail di ingatanku.
***
Diawal
perjumpaanku dengan mu, kamu pernah bertanya apa bahagiaku. Aku ingin
mengatakan, “Seperti ini. Seperti sekarang ini. Meluangkan waktu bersama kamu.
Bisa melihat mata kamu yang menyipit ketika kamu tertawa, atau merapikan rambut
panjangmu yang terkena angin ketika pintu cafĂ© terbuka.”
Tetapi
akhirnya aku malah mengatakan, “Banyak. Makan yang enak, pergi ke pantai,
menonton film, atau mendengarkan musik yang enak di telinga.”
“Ah, kita sama. Kenapa lain kali kita tidak
melakukannya berdua?” mata kamu membesar. Senyummu mengembang lebar.
Aku senang mendengarnya, sekaligus
menyesalinya. Seharusnya jangan berkata seperti itu, karena aku akan terus
menginginkannya.
“Bagaimana
kalau jazz? Kamu suka? Ayo kita nonton berdua!” katamu lagi.
Kamu
harus melihat dirimu sendiri ketika mengatakannya, tapi bukan dari kaca matamu
sendiri, melainkan dari kaca mata pikiran dan hatiku. Jadi, kamu tidak lagi
sembarangan mengatakan hal seperti itu sambil sumringah dan alismu kamu naik
turunkan. Pasang wajah semenyenangkan mungkin.
“Mana
ada konser Jazz di sini. Java Jazz adanya, itu pun di Jakarta, dan mungkin
harus menunggu lama,” kataku.
“Oiya,”
katamu sambil menepuk jidat, memasang muka konyol seperti biasanya. “Kalau
begitu nonton musik apa ya?” lanjutmu.
“Angklung,di
jalanan. Setiap malam biasanya ada di Alun-alun sana” Sahutku.
“Yaaaah, masak angklung? Di jalanan lagi. Gak
ada tempat buat duduknya dong. Gak ada buat ngopi dan ngemil kentang goreng.” Kamu
terbahak.
“Mau gak?” aku tersenyum saja.
“Hih!
kamu ini gak bisa bercanda sedikit apa. Ngomong kok singkat-singkat.” Katamu
mendelik.
Aku
tertawa. Kamu pasang muka cemberut. Bahkan kamu sedang cemberut pun aku
menyukainya. Nah, gila kan?
“Kalau
kita melihatnya, kamu akan senang?” tanyamu.
Lagi.
Kamu melakukannya lagi. Tersenyum di depanku sambil menanyakannya, memasang
muka ceria, dan menaik turunkan alismu. Sial! Kalau kamu terus melakukannya
bisa-bisa aku nekat bilang cinta. Sesuatu yang aku masih takut mengatakannya.
“Kalau
kamu? Kamu juga akan senang?” balasku tanpa menjawab pertanyaanmu.
Kamu
tersenyum lebih lebar dan menatapku dengan muka ceria. “Tentu saja,”
jawabmu cepat.
“Okeey,
bagaimana kalau nanti malam kita kesana?” tanyaku kemudian.
Kamu
tak menjawabnya dengan ucapan. Kamu hanya mengangguk beberapa kali seperti anak
kecil yang ditawarkan lolipop kesukannya. Senyummu melebar.
Ah, kamu sebenarnya bisa melakukan
apa saja. Tapi kenapa kamu harus melakukan sesuatu yang membuatku tidak pernah
menyangkanya? Membuatku jatuh cinta tanpa kamu menyadarinya.
***
“Gleen..!”
Kamu memanggilku setengah berteriak
di antara kerumunan, dan ketika aku menengok, ada kamu sedang tersenyum riang
sambil melambaikan kedua tanganmu ke kiri dan kanan. Nyaris semua badanmu ikut
bergerak ketika melambaikan tanganmu itu. Terlihat sangat riang.
Kamu sepertinya benar-benar tidak
sadar kalau senyum dan kerianganmu itu selalu menjadi teroris yang mengambil
alih otakku. Lagi dan berulang kali.
“Udah
dari tadi?” tanyamu sambil membereskan
ujung rambut yang sedikit berantakan karna tadi berlari saat menghampiriku.
Ah
bahkan berantakan semuanya pun bagiku kamu tetap menarik. Gumamku. Aku terpaku
sepersekian detik.
“Hei..”
ucapmu lagi menganggetkan ku.
“Eh,
nggak kok, baru aja nyampe,” jawabku kemudian.
“Cari
tempat kosong yuk!” usulmu sambil menyapu pandangan ke arah sekitar.
Kita lalu sepakat mencari tempat
untuk ngobrol berdua. Tidak enak berada di tengah keramaian dengan banyak orang
berlalu lalang seperti ini. Ya. Mungkin di Kedai coffe sebrang alun-alun ini.
Niat untuk melihat angklung itupun berubah. Malam ini sepertinya akan sangat
menyenangkan. Aku bisa memandangi dan mendengar suaramu berlama-lama.
Tapi lalu dia datang.
“Putri..!”
Seorang lelaki muncul di tengah
kerumunan dan memanggil namamu. Kamu menengoknya dan setengah berteriak girang
menyambutnya.
Tepat di sana, aku sadar. Keriangan
itu, mata berbinar itu, senyum itu, tidak hanya untukku. Kamu selalu
melakukannya kepada siapa pun. Ah, bodohnya aku mengira kerianganmu spesial untukku.
“Hei Ga, sedang apa disini?” tanyamu
pada lelaki itu.
“Tadinya mau ke Ultra disk minjam
kaset, tapi sekilas aku seperti melihatmu, sekedar meyakinkan aku berhenti dan
kesini, ternyata benar kamu.” Jelasnya sambil sesekali melirik ke arahku.
Ya, malam itu aku memang duduk di
bangku luar di Kedai Coffe itu yang letaknya tepat di pinggir jalan. Siapapun
yang hendak ke Ultra disk pasti melewati Kedai Coffe ini. Letaknya memang
bersebelahan.
Dan pemandangan selanjutnya, oke,
aku akui ini cukup menyiksa. Melihatmu berbincang dengan penuh tawa dengannya
meski itu sebentar saja. Rasanya kamu tidak harus kemudian tiba-tiba melupakan
bahwa aku di sini, tepat dua meter darimu hanya karena dia muncul begitu saja
dan mengganggu kesenanganku.
Aku memperhatikan benar setiap
gerakanmu yang bercanda dengannya. Ketika kamu tertawa sambil menutupi mulutmu,
atau ketika kamu mendorong lengannya pelan, dan atau ketika dia mengucapkan
sesuatu, lalu kamu hampir saja terbahak. Kamu terlihat bahagia sekali bertemu dengan
dia. Baiklah, rasanya, kamu tidak perlu menyiksa mataku sampai seperti itu.
Lalu kamu menarik tangannya untuk mendekat kepadaku.
O, kamu memang benar-benar buta.
Sama sekali tidak melihat kalau aku sedang tersiksa dan malah menggandeng
tangannya di depanku.
“Kenalkan,” katamu. “Ini Ega.”
Bisa kamu tidak tersenyum malu-malu
sambil meliriknya ketika menyebut namanya itu? Setidaknya jangan di depanku. Dia
melirikmu sambil tersenyum. Lalu kamu melihatnya dan ikut tersenyum. Masih
malu-malu. Tidak lupa cubitan kecil mendarat di lengannya. Apa ini? Pasar
malam cinta? Tepat di depanku?!
“Hai, aku Glenn.” Aku menjabat
tangannya.
“Oh, ini?” katanya, masih tersenyum
menatapmu.
Oh, ini? Aku bingung
mengartikan semuanya. Apalagi ketika tangan kanannya sedikit menunjuk ke arahku
ketika mengatakannya. Oh, ini?
“Hei! Ayo, katanya kita mau makan?”
Kamu mendekat kepadaku setelah mendorong lengannya pelan. “Sudah pergi sana.
Sana sana sana!” katamu kepadanya sambil tertawa.
Dia tertawa. Dan aku masih
memandangi kalian berdua. Masih mencoba mencerna semuanya.
“Oh, aku pengganggu, sekarang?”
tanya Ega.
Kamu kembali tertawa. Mendorongnya
lagi seperti mengusirnya sambil bercanda. Kali ini dia yang tertawa.
“Oh, sekarang aku dilupakan dan
diusir hanya karena orang yang selalu kamu ceritakan setiap malam sedang di
sini?” kata Ega lagi sambil tertawa.
Pipi kamu memerah. Aku melihatnya.
Mungkin pipiku juga. Tapi semoga kamu tidak melihatnya. Mungkin aku sudah
mencerna semuanya.
“Ssst,” katamu sedikit melotot
sambil jari telunjukmu di bibirmu. Masih dengan pipi memerah. Masih dengan
dorongan ringan ke arahnya mencoba menghentikan semua kalimatnya.
"Kapan dibawa ke rumah?"
tanya Ega menggodamu.
Mulutmu terbuka seketika. Tersipu
malu sambil lalu menghajarnya dengan pukulan-pukulan pelan di lengannya. Dia
hanya tertawa.
“Kamu jadi sepupu usil banget sih!”
Ucapmu sambil mendorong tubuh Ega.
“Maaf,” katamu. “Jangan dengarkan
dia. Dia memang sering menggodaku. Kusuruh pergi pun, dia tadi minta sogokan
donat dari sini, coba?!” kamu menggerutu lucu.
Aku tertawa saja, lalu melihatmu
sambil tersenyum. Ah, aku suka sekali. Hari ini aku mengetahui sesuatu. Sesuatu
yang tidak ada bandingannya dengan donat dan kopi yang sangat menggoda di
depanku.
Kamu melihatku lalu tersipu ketika
menyadari aku sedang memperhatikanmu.
“Apa sih?” katamu sambil menunduk
malu dan menggoyang dua kakimu di kursi itu.
Aku tersenyum saja.

0 komentar:
Posting Komentar