Seusai kuliah, Salsa mengecek
ponselnya yang sedari tadi ditaruhnya di dalam tas. Ada tiga panggilan tak
terjawab dan sebelas pesan masuk. Semua dari Dani,kekasihnya.
Sa,pulang
kuliah jam berapa?
Sa,Kalau
udah selesai kuliah SMS ya.
Udah
selesai belum?
Salsaa..
Dan sederet SMS lainnya yang
memenuhi ponsel Salsa. Salsa membalas dengan singkat.
Maaf tadi lagi ada quiz
menjelang UTS jadi gak sempet balas SMS. Sekarang udah selesai.
Tak berapa lama setelah Salsa
membalas SMS Dani, ponsel Salsa
berdering kembali. Dari Dani.
Tunggu
di kampus. Aku jemput sekarang.
Salsa dan Dani kuliah di kampus dan
fakultas yang sama, hanya saja mereka beda kelas. Itulah yang menyebabkan
jadwal mereka tak sama.
“Hei..!!” teriak Dani dari depan
gerbang kampus.
Salsa tak sulit untuk menemukan
suara itu, letaknya memang dekat dengan tempat Salsa menunggu Dani,pos satpam.
“Ikut yuk!” ajak Dani.
“Kemana? aku besok masih ada quiz.
Harus belajar.” Protes Salsa.
“Sebentar aja, lagian sekarang kan
baru jam dua, sebelum ashar aku anterin pulang deh,” bujuknya memaksa.
Salsa menurut, ia masuk kedalam
mobil Dani. Baru beberapa meter mobil itu bergerak Dani menyulut rokok.
“Mau ngerokok?” Salsa mengerutkan
kening menatap Dani.
“Iya, sebatang aja kok” jawab Dani
acuh sambil menyulut rokok itu.
“Bukan masalah sebatang dua
batangnya, mau berapa bungkuspun silahkan, asal jangan dekat aku. Aku kan udah
sering bilang.” Jelas Salsa. Ada kekecewaan di balik kata-katanya itu.
“Okee, aku buka semua jendela
mobilnya biar asapnya keluar bebas gak ngenain kamu,” sahutnya sambil membuka
semua jendela mobil.
Tak berapa lama mobil pun berhenti
tepat di depan sebuah stadion futsal. Salsa bergegas turun,Dani menghampiri
Salsa lalu menggandengnya masuk.
“Temenin aku latihan futsal ya, dua
bulan lagi kan ada turnamen.” Pinta Dani.
“Dengan senang hati, tapi kasih aku
satu alasan dulu kenapa kamu lebih milih latihan futsal yang hari H nya masih
dua bulan dibanding UTS yang tinggal satu minggu lagi?” tanya Salsa menatap
tajam Dani.
“Ayolah sayang jangan paksa aku
berfikir sekarang.Please,,” sahut dani memelas.
Salsa terdiam. Ia selalu tak bisa
berbuat apa-apa jika Dani sudah begitu. Salsa menunggu Dani bermain futsal di
kursi penonton. Sejam, dua jam akhirnya Dani selasai bermain. Dani berjalan ke
arah Salsa.
“Bentar ya, aku ganti baju dulu,”
ucap Dani sambil membawa tas berisi baju ganti yang sedari tadi dipegang Salsa.
“Iya.” Sahut Salsa singkat dan
jelas.
Dani berjalan menjauh dari arah
Salsa menuju ruang ganti. Saat Dani hendak masuk ke ruangan itu langkahnya
terhenti. Ada seorang wanita yang menghampiri Dani.Walau jaraknya jauh, tapi
Salsa dapat melihat dengan jelas ada keakraban diantara keduanya.
Salsa melihat ke arah jam, jam
setengah lima sore dan Dani masih tampak asyik dengan wanita itu yang baru
Salsa sadari adalah mantan Dani. Salsa pernah melihat beberapa foto wanita itu
di komputer Dani dengan nama file “Ex”. Tak bisa menunggu lebih lama Salsa
memutuskan untuk meninggalkan Dani dan pulang.
***
“Salsaa..!!” tampak Doni berlari
mengejar Salsa yang beberapa langkah di depannya.
Salsa menghentikan
langkahnya,berbalik ke arah Doni.
“Kamu marah?” tanya Doni pelan
sambil memegang kedua tangan Salsa.
Salsa tak menjawab, dia hanya
menggeleng.
“Sayang, jangan diem gitu, kamu
marah? Iya? Marah aja, aku emang salah. Aku udah nyita waktu belajar kamu, udah
biarin kamu sendirian nungguin aku futsal, terus aku juga udah biarin kamu
nunggu aku lama-lama ngobrol sama Dewi, aku juga gak nganterin kamu pulang.
Kamu mau hukum aku? Hukum apa? Aku pasti
terima, tapi please maafin aku,” Doni mengiba mengakui salahnya.
“Aku gak marah kok. Tapi jangan
diulangin lagi ya.” Pinta Salsa pendek, lalu tersenyum kearah Doni.
Salsa melepas genggaman tangan Doni,
dia tampak mengambil sesuatu dari tas nya.
“Ini,” Salsa menyodorkan selembar
kertas berisi data entah apa.
“Apa ini?” tanya Doni sambil
melihat-lihat kertass itu.
“Bahan buat Quiz nanti baca-baca aja,
hari ini kamu ada Quiz kan?” sahut Salsa.
“Kok kamu tau?” tanya Doni heran.
“Jadwal kita kan sama, bedanya kamu
masuk pag,i aku masuk siang,” jawab Salsa menjelaskan.
Doni tertegun. Dia gak menyangka
Salsa sedetail ini memeperhatikannya padahal jelas-jelas kemarin dia
menyia-nyiakannya.
“Ya udah aku ke ruang dulu, ada
jadwal lagi.” Pamit Salsa.
“Makasih ya I heart you,” ujar Doni
tersenyum.
Salsa tak menjawab, ia hanya
tersenyum dan mengangguk. Lalu melangkah meninggalkan Doni. Ia berharap sikap
Doni seperti ini terus, lembut dan menenangkan.
Doni belum beranjak, dia masih
memperhatikan langkah Salsa sampai hilang dari pandangannya. Dia baru sadar
kalau ternyata Salsa berbeda dari mantan-mantannya yang lalu. Salsa begitu
tulus menerima semua kekurangannya, Salsa benar-benar tulus mencintainya bahkan
dengan sikap dan sifatnya yang tak sebanding sekalipun. Dan setelah ini Doni
berjanji tak akan menyia-nyiakan gadis sebaik Salsa lagi. Tak akan.
Doni beranjak dari tempatnya
,melangkah pasti dengan segenap tekad dan janji, janji akan menjadi lebih baik
lagi untuk Salsa. Untuk semua.

0 komentar:
Posting Komentar