Ingin jadi apapun kelak, tugas mu hanya satu: ‘Menyelesaikan Tugas Hari Ini Dengan Baik’.
Itu jawaban singkat yang di berikan oleh seorang guruku atas kecemasanku
tentang masa depan. Katanya, aku seorang yang terlalu paranoid, mencemaskan
sesuatu yang belum tentu terjadi secara berlebihan. Aku tidakk setuju dengan
pendapatnya itu. Bagaimanapun kita harus punya rencana yang matang untuk
kehidupan kelak.
Sering aku mendengar teman-temanku berkata, “Gimana besok ajalah” Dalam
hati aku sering meralatnya, “Bukan bagaimana besok, tapi besok
bagaimana???”
Banyak hal yang ingin ku capai. Dan salah satu obsesi terbesarku adalah jadi
seorang penulis. Aku ingin, suatu hari nanti, saat aku masuk ke Gramedia,
Tisera atau toko buku lainnya ada salah buku yang terpampang atas namaku. Iya,
aku ingin jadi seorang penulis.
Awalnya aku sering bingung dan bertanya-tanya, “Ingin jadi apa aku
kelak?” Berbeda dengan teman-teman seumuranku
waktu itu yang akan dengan mudahnya menjawab, “Guru, Dokter,
Insnyur, Pilot.”Aku
akan lama terdiam, setiap kali ada yang bertanya,“Cita-cita kamu apa?
Sampai
akhirnya guruku bertanya, “Hal apa yang paling kamu sukai?”
“Banyak.
Membaca, main catur, tenis meja, menulis.” Jawabku waktu itu.
“Yang
paling kamu sering lakukan diantara semuanya?” tanyanya lagi.
“Membaca
sama nulis.”
Jawabku singkat.
“Kenapa?” tanya guru itu masih
mengintrogasiku.
“Ya, aku gak pernah ngerasa bosan aja setiap kali melakukan dua hal itu. Sesibuk
apapun pasti selalu menyempatkan.” Aku seperti disadarkan oleh jawabanku
sendiri waktu itu.
Iya, juga. Hampir setiap hari aku melakukan dua hal itu, membaca dan menulis.
Rasanya aku seperti menemukan dunia baru setiap kali sedang melakukan dua hal
itu. Imajinasiku bebas berterbangan membayangkan apa yang ku baca, dan
menjadikannya nyata dengan menuliskannya kembali apa yang ada di imajinasiku.
Dari kecil aku senang sekali menulis. Bagiku, dengan menulis kita bisa
menuangkan ide fikiran apapun yang tak bisa disampaikan oleh lisan. Aku senang
menuliskan tentang semua hal yang terjadi di hari itu di buku diary. Bagiku
tulisan adalah mesin waktu sebenarnya yang ketika suatu saat nanti kita lupa
atau merasa kangen dengan masa lalu, kita tinggal membaca ulang tulisan itu.
Selain menulis diary, dulu, bahkan sampai saat ini, aku juga senang menulis
cerpen, aku akan dengan senang menyambutnya ketika ada yang memintaku untuk
menulis cerpen. Mengapa? Karna hanya saat aku menulis cerpen ini, aku bisa
membuat tokoh dengan tabiat seperti yang ku inginkan, aku bebas menciptakan
karakter tokoh yang tak ku temui di dunia nyata ini. Aku tinggal berimajinasi
sebentar, lalu menuliskannya. Lihat betapa menyenangkannya menulis bagiku.
Aku ingat betul, dulu saat aku masih duduk di bangku SMP ada seorang guru yang
juga cinta sekali dengan dunia tulis menulis mengatakan, “Jika kamu bukan anak seorang raja
atau ulama, maka jadilah penulis.”Dari situ aku mulai serius menggeluti dunia
tulis menulis, mulai belajar tentang struktur kata yang benar, sering-sering
baca buku untuk memperkaya diksi atau ikut seminar tentang kepenulisan.
“Kenapa
pengen jadi penulis?”
tanya seorang temanku waktu itu.
Aku akan menjawab, “Cuma
ingin ngasih jawaban ke Mama, kalau gadang ku selama ini bukan untuk main-main
seperti yang selalu Mama ku kira.”
Iya, aku lebih sering mengahabiskan waktu malam untuk menulis. Selain karna
suasananya yang sepi dan hening, malam selalu berhasil memberikan ide-ide yang
tak pernah bisa ku dapat di siang hari.
Maka, bila sampai waktuku, aku ingin jadi seorang penulis sebelum atau paling
lamanya di umur 23 tahun kelak. Lewat tulisan ku nanti, aku hanya ingin orang
tahu kalau aku ada. Aku ingin berbagi kisah pada orang banyak tanpa harus
bercerita langsung satu per satu pada mereka. Karna menurutku, ketika kita
bercerita, orang lain belum tentu ingin mendengarkan. Tapi jika menuliskannya
dan mereka membaca, sudah pasti karna mereka ingin tahu kisah kita. Itulah
mengapa aku begitu ingin menjadi seorang penulis.

0 komentar:
Posting Komentar